Senin, 01 November 2010

Qiyamul Lail(SholatMalam)



Sholat adalah salah satu tiang penyangga bangunan Islam. Ibadah ini merupakan penentu bagi seluruh ibadah-ibadah yang lain. Jika sholat itu baik, maka ini akan menjadi indikasi, pertanda bahwa ibadah-ibadah yg lain akan baik pula. Begitu pula sebaliknya.
Namun sholat yang demikian posisinya, ia adalah rukun islam .Ia adalah ibadah yang pelaksanaannya sangat berat. Ini dinyatakan Allah dalam Qur’an Surat Al Baqorah ayat 45,”Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Kita adalah manusia yang memiliki karakter lemah dan kurang. Dan karenanya, hampir mustahil bagi kita untuk melaksanakan shalat dengan sempurna. Allah mengetahui itu. Oleh karena itu, Allah juga mensyariatkan adanya shalat-shalat sunnah, termasuk juga shalat malam, sebagai ibadah pendamping shalat-shalat fardhu.
Shalat Malam sebagai Penyempurna Shalat Fardhu
Salah satu fadhilah (manfaat) pelaksanaan shalat sunnah ini sebagai penyempurna sholat fardhu yang belum bisa kita laksanakan dengan semurna. Jadi, shalat sunnah, termasuk shalat malam itu merupakan kebutuhan bagi kita.
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama-tama kali dihisab (diperhitungkan) pada Hari Kiamat nanti adalah shalatnya, apabila shalatnya baik maka sungguh dia telah beruntung dan selamat, dan jika shalatnya rusak maka dia akan kecewa dan merugi. Apabila shalat fardhunya kurang sempurna, maka Allah berfirman: Apakah hambaKu ini mempunyai shalat sunnah? Maka tutuplah kekurangan shalat fardhu itu dengan shalat sunnahnya.’ Kemudian begitu pula dengan amalan-amalan lainnya yang kurang.” ( HR. Abu Daud, At Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan).
Shalat Malam sebagai Sarana untuk Meraih Cinta Allah
Hikmah lain melaksanakan shalat sunnah adalah meraih cinta Allah. Dalam suatu Hadits Qudsyi yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim disebutkan bahwa,”Tidak ada satu amal ibadah yang dilakukan hambaKu dalam rangka untuk mendekatkan diri padaKu yang lebih Aku cintai kecuali ibadah wajib yang telah Kuwajibkan padanya. Jika ia komitmen pada ibadah wajib dan kosisten melakukan ibadah-ibadah sunnah maka Aku akan mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, maka ketika ia meminta pasti Aku beri, dan kalau ia meminta perlindungan pasti akan Aku jamin.”
Shalat Malam memiliki Nilai Pahala yang Berlipat
Rasulullah pernah menggambarkan betapa besar pahala ketika melaksanakan 2 rakaat shalat malam. Dalam sebuah hadits Rasul SAW bersabda, “Shalat yang dikerjakan oleh seorang muslim di masjidku (masjid Nabawi) itu pahalanya sama dengan seribu shalat. Dan shalat yang dikerjakan di Masjidil Haram memiliki pahala yang sama dengan seratus ribu shalat, dan lebih banyak dari itu semuanya yaitu 2 rakaat yang dikerjakan hamba Allah di akhir malam.”
Dalil-dalil tentang Pentingnya Shalat Malam
Ada banyak dalil dalam Qur’an maupun Hadits, yang menguraikan tentang pentingnya shalat malam ini. Pertama, shalat malam itu adalah perintah Allah pada Rasul, di awal surat yang diturunkan di Makkah sebelum perintah mengenai amanah menjalankan dakwah kepada Rasul SAW. Hal ini dapat dilihat dalam QS Al Muzammil.
Kedua, dalam QS Al Isra 79-81 disebutkan beberapa manfaat shalat malam yaitu sebagai ibadah tambahan bagi kita, sebagai sarana untuk mendapatkan tempat terpuji (mahqaamam mahmuuda) di hadapan Allah. Selain itu dapat mendatangkan pertolongan dari Allah berupa kekuatan serta mendatangkan kebenaran dan mengusir kebatilan.”Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan mengangkatmu ke tempat yang terpuji (mahqaamam mahmuuda). Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku). Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al Isra 79-81)
Ketiga, dalam Surat Adz dzariat 15-18 disebutkan bahwa orang-orang yang menegakkan shalat malam adalah termasuk karakter orang-orang bertakwa yang berhak mendapatkan surga.”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman surga dan mata air, mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik, mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.”
Keempat, dalam Surat Al Furqan 63-64, disebutkan bahwa orang-orang yang menegakkan shalat malam tergolong sebagai Ibadurrahman (hamba yang dicintai Allah). “Adapun ibadurrahman (hamba-hamba yang dikasihi Allah) itu adalah yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan katak-kata yang menghina, mereka mengucapkan salam, dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan sujud atau berdiri.”
Kelima, keutaman shalat malam juga terdapat pada hadist yang diungkap Rasul SAW. Hadits yang pertama, Rasul SAW mengungkapkan bahwa, “Shalat malam itu ditegakkan oleh orang-orang sholeh (kaum sholihin).” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, al Hakim, Hasan)
Dalam sebuah riwayat lain, seorang shahabat bernama Abdullah bin Salam mengatakan,”Ungkapan-ungkapan (pesan) pertama kali yang aku dengar ketika Rasul SAW hijrah adalah: Wahai manusia sebarkan salam, berikan makan pada yang membutuhkan, sambungkanlah tali kasih sayang, dan sholatlah di malam hari ketika orang-orang lain sedang tidur maka dengan itu semuanya kalian bisa masuk surga dengan sejahtera.” (HR. At Tirmidzi, hasan shahih)
Adab dan Tata Cara Shalat Malam
Adab yang pertama adalah berniat bangun untuk shalat malam sebelum tidur. Rasul berpesan dalam sebuah haditsnya, “Barang siapa yang tidur dan niat untuk bangun malam tapi kemudian ia terlelap sampai pagi, maka Allah akan tetep menulis pahala apa yang ia niatkan sebelum tidur. Dan menghitung tidurnya sebagai shodaqoh.” (HR. an-Nasa`i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, tanpa keraguan pada perawi2nya)
Adab yang kedua adalah memulai shalat malam dengan yang ringan. Maksudnya adalah membuka shalat malam dengan menggunakan surat-surat pendek pada dua rakaat pertama, setelah itu boleh menggunakan surat yang panjang.
Adab yang ketiga, hendaknya membangunkan keluarga untuk melakukan shalat malam. Dalam sebuah hadits, “Sungguh Allah akan memberikan rahmat (kasih sayang) seorang laki-laki yang bangun di malam hari kemudian juga membangunkan istrinya (keluarganya) dan ketika tidak mau dibangunkan hendaknya memercikkan air ke wajahnya. Begitu juga kepada wanita yang bangun di malam hari kemudian juga membangunkan suaminya (keluarganya) dan ketika tidak mau dibangunkan hendaknya memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Abu Dawud , an-Nasa`i, al-Hakim, shahih).
Adab yang keempat, hendaknya tidak memaksakan shalat dengan jumlah yang banyak dan lakukan semampu kita. Dalam hadist riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah bersabda, “Ambillah/kerjakanlah dari amal yang bisa kalian kerjakan sesuai dengan kemampuan kalian. Sungguh, Allah tidak akan bosan kecuali kalau kalian sendiri yang bosan.” Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasul SAW mengatakan, “Shalatlah kalian di malam hari walaupun satu rakaat saja.” Bahkan shalat yang paling dicintai Allah adalah sholat yang dikerjakan konsisten meskipun jumlahnya sedikit. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim, Rasul SAW pernah menasihati seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Umar untuk konsisten melaksanakan shalat malam, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti Fulan ! Dulu dia melakukan shalat malam, namun sekarang sudah tidak lagi.” Dalam hadits lain disebutkan, “Ketahuilah perbuatan yang paling dicintai Alah itu perbuatan yang dilakukan secara konsisten meski jumlahnya sedikit.” (HR Bukhari)
Waktu Shalat Malam
Shalat malam boleh dilaksanakan di awal malam, tengah malam, atau di akhir malam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Hajar, “Tidak ada waktu khusus dari waktu tahajud Rasulullah. Tapi Rasulullah tahajud pada waktu yang mudah baginya.” Hanya saja, paling utama di sepertiga akhir malam. Sebagaimana dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari, Rasul SAW bersabda,”Rabb kita, pada setiap akhir malam (sepertiga akhir malam) turun ke langit dunia, siapa yang saat ini sedang memohon kepadaKu akan Aku beri dan siapa yang saat ini sedang meminta ampun kepadaKu, akan Aku ampuni.” Dan pada hadits shahih riwayat At Tirmidzi disebutkan bahwa Rasul SAW bersabda, “Posisi yang paling afdol (dekat) pada seorang Hamba Allah adalah pada akhir malam.” Oleh karena itu, jika kita bisa melaksanakan dzikir dan shalat malam pada saat itu, akan sangat baik nilainya.
Dalam sebuah hadits, Abu Dzar ditanya oleh seorang shahabat “Shalat lail yang paling baik itu bagaimana?” Maka Abu Dzar menjawab, “Aku pun pernah bertanya pada Rasul sebagaimana engkau bertanya padaku dan kemudian Rasul SAW menjawab: Shalat malam yang paling baik adalah dikerjakan di akhir malam dan sangat sedikit (dari kalian) yang mengerjakannya.”
Dalam hadist lain disebutkan pula, “Nabi saw. bersabda: Sebaik-baik shalat sesudah yang wajib adalah shalat malam (tahajud). Dan sebaik-baik tahajud adalah di akhir malam.” (HR Muslim)
Tentang Batas Jumlah Raka’at Shalat Malam
Para ulama menyatakan bahwa shalat malam itu tidak ada batasan minimal dan maksimal jumlah raka’atnya, dan sebaiknya dilakukan sesuai kemampuan kita masing-masing.Diriwayatkan bahwa seorang shahabat bernama Samuroh berkata, “Rasul SAW memerintahkan kepada kita untuk sholat malam sedikit atau banyak rokaatnya dan Rasul memerintahkan agar menutupnya dengan shalat witir.” (HR Muslim)
Bahkan Rasul SAW berwasiat kepada kita untuk tidak meninggalkan shalat malam dalam sebuah haditsnya “Shollu minal laili walau rak’atan (shalatlah kalian di malam hari meskipun satu raka’at).” (HR Bukhari)
Meski tidak ada batas jumlah maksimal raka’at, yang lebih utama adalah ketika kita bisa membiasakan diri konsisten dengan 11 rokaat. Menurut Aisyah dalam sebuah riwayat hadits, “Rasulullah tidak pernah menambah sholat di malam bulan Ramadhan lebih dari 11 raka’at.” Tapi, hadits ini tidak menunjukkan batas maksimal jumlah raka’at shalat malam. Karena, bagian akhir hadits ini menyatakan bahwa Aisyah mengungkapkan, “Tapi jangan kau tanya ketika Rasul SAW shalat malam dengan jumlah 11 rakaat itu bagaimana baiknya dan bagaimana panjangnya.” Diantara yang menunjukkan panjangnya shalat malam Rasul SAW, Ibnu Abbas bin Mualaf pernah berjamaah shalat malam dengan Rasul SAW. Dan menurutnya, surat-surat yang digunakan setelah Al Fatihah adalah Al Baqarah, Ali Imran, An Nisa.
Jadi, ketika kita ingin mencontoh shalat malam Rasul SAW, bisa dengan melakukannya sejumlah 11 raka’at dan menggunakan surat-surat yang panjang. Dan jika kita tidak bisa sepenuhnya, maka kita bisa melaksanakan sesuai dengan kemampuan kita.
Tentang Qodho Shalat Malam
Shalat malam bagi rasul itu wajib, dan menurut ulama shalat malam bagi kita adalah sunnah muakad. Oleh karena itu, kalo kita sudah terbiasa shalat malam, kemudian ternyata suatu malam terhalang untuk melakukannya karena tertidur kelelahan atau sejenis, kita boleh menggantinya (Qodho) di siang hari. Sebagaimana Rasul SAW yang dinyatakan Aisyah dalam Hadits Riwayat Muslim, “Jika Rasul SAW ketinggalan shalat (malam) di malam hari karena sakit atau hal yang lain, maka diganti (Qodho) di siang hari.”
Shalat Malam di Bulan Ramadhan
Shalat malam akan bernilai lebih ketika dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadist dinyatakan Rasul SAW bersabda, “Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan niat ikhlas karena Allah, maka shalatnya akan menjadi sarana penghapus dosa.” (Muttafaqun aliahi)Shalat malam itu boleh dilakukan secara berjamaah, hanya saja jangan dibiasakan. Khawatir dipahami oleh orang-orang yang belum mengerti, bahwa shalat malam itu dianggap wajib dilakukan secara berjamaah. Pada masa Rasulullah pun, saat Ramadhan tiba Beliau hanya mengikuti shalat malam berjamaah di masjid hanya sekitar 3 kali dalam sebulan. Dan ketika ditanya mengapa demikian, Rasul SAW menjawab, “Aku sengaja melakukan ini karena khawatir ada anggapan bahwa shalat malam itu wajib dilaksanakan secara berjamaah.” Hal ini dilakukan Rasul SAW sebagai cara untuk menutup segala sarana yang mengakibatkan munculnya anggapan tentang wajibnya ibadah dan cara melakukannya, sedangkan sebenarnya tidak demikian.
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berusaha untuk konsisten dalam melaksanakan amalan shalat malam sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul SAW.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar